Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan GBI – Menggerakkan Misi Melalui Pendidikan
(Oleh: Ir. Samuel Tarigan, MBA)

Pengakuan Masyarakat atas Keberhasilan Pendidikan Kristen

Misi gereja untuk memenangkan jiwa dapat dilakukan melalui pelayanan di dalam maupun di luar gereja. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa misi Kristen yang dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan dan pendidikan mendapat penerimaan yang luas di tengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangannya, kualitas dan kuantitas rumah sakit dan pendidikan Kristen dan Katholik di Indonesia kini diakui sebagian besar masyarakat dan pejabat tinggi sebagai salah satu elemen terpenting dalam peningkatan kesejahteraan bangsa. Sebagai contoh, dari 33 perguruan tinggi Indonesia yang termasuk ke dalam World Class University 2009, terdapat 5 perguruan tinggi Kristen Katholik yang termasuk ke dalam daftar yang disusun oleh webometrics tersebut (bandingkan dengan universitas berlatar belakang agama lain yang sangat sedikit). Bahkan salah satu universitas terbaik di dunia saat ini, Harvard University di Amerika Serikat yang didirikan pada tahun 1636 oleh misionaris John Harvard, kini menjadi salah satu universitas yang paling lama bertahan dengan ajaran Kristen.

Sekolah-sekolah BPK Penabur milik GKI Jabar telah mengukir karya terbaik bagi masyarakat luas selama kurun waktu 55 tahun. Prestasi yang diraih selama ini oleh BPK Penabur telah membuktikan bahwa sebuah sekolah yang dikelola oleh Gereja adalah sekolah yang bermutu, andal, terpercaya dan menjadi kebanggaan masyarakat luas. Demikian juga halnya prestasi yang dicapai Yayasan IPEKA dari Gereja Kristus Yesus (GKY) dalam usia 25 tahun amat menonjol. Banyak gereja di Indonesia yang concern terhadap dunia pendidikan demi pencerdasan kehidupan bangsa. Beberapa dapat disebut: BPPK-GKP, YAPENDIK- GPIB, DPP HKBP, YP GMI, Yayasan Pendidikan Kalam Kudus, dan sebagainya. Kepedulian gereja-gereja terhadap upaya pencerdasan bangsa merupakan sebuah komitmen teologis yang perlu terus-menerus diwujudkan di ruang sejarah.

Meskipun telah mencapai banyak keberhasilan, pendidikan Kristen tentu masih memiliki tantangan besar. Pertama, banyak lembaga pendidikan Kristen di Indonesia (TK sampai dengan perguruan tinggi) yang telah cukup berhasil, yang tampak lupa pada misi awal untuk meraih jiwa dan malah beralih pada tujuan komersial. Akibatnya jelas, banyak alumni lembaga pendidikan Kristen yang tidak mengenal Kristus bahkan menjadi batu sandungan.Kedua, kelompok mayoritas mencoba bersaing dan memberikan tekanan pada pertumbuhan lembaga pendidikan Kristen dengan memberi kemudahan fasilitas kepada lembaga pendidikan non-Kristen. Ketiga, potensi sinergi lembaga-lembaga pendidikan Kristen belum terwujud karena masing-masing lembaga cenderung berjuang sendiri. Keempat, potensi sumberdaya gereja atau para anggota gereja (pengusaha, pendidik) yang mampu dan ingin berkontribusi dalam pendidikan belum digerakkan dengan baik.

Di sinilah, GBI berkesempatan untuk melakukan terobosan.

Manfaat Misi Melalui Pendidikan

Banyak sekali manfaat yang dapat diraih gereja apabila melakukan misi melalui pendidikan. Pertama, kesempatan meraih jiwa baik siswa dan orang tua dan memperkenalkan mereka kepada Krsitus. Dengan menyekolahkan putra/inya di sekolah Kristen (bahkan kadang dengan membayar cukup mahal),  orang tua dan siswa secara tidak langsung menyatakan keterbukaannya terhadap pengajaran terhadap kebenaran. Tidak hanya sampai di sana, apabila dibina dengan baik (baca: terintegrasi secara visi mulai dari TK sampai dengan perguruan tinggi), para siswa tersebut sangat berpotensi menjadi para profesional, pengusaha, pejabat dan pemimpin yang berpengaruh dan punya hati misi untuk memenangkan jiwa. Bukankah ini akan berkaitan langsung dengan pertumbuhan gereja mengingat sebagian besar anggota gereja adalah orang-orang di marketplace dan kaum awam?

Manfaat kedua, perizinan mendirikan sekolah umumnya lebih mudah dibandingkan dengan perizinan untuk mendirikan gereja. Masyarakat non-Kristen pun terbuka terhadap kehadiran sekolah Kristen baik yang secara eksplisit berlabel Kristen maupun tidak.

Ketiga, gereja mendapat kesempatan berkontribusi langsung dalam memenuhi kebutuhan real masyarakat yang sangat besar terhadap pendidikan yang berkualitas. Melalui pendidikan, gereja bisa berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini yang masih tergolong rendah. Laporan UNDP pada 27 November 2007, menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia adalah 0.728 dan berada pada peringkat 108 dari 175 negara di dunia. Tegasnya, Indonesia sedang menantikan peran gereja (baca GBI) untuk membangun pendidikan.

Keempat, bila dikelola dengan baik lembaga pendidikan Kristen sangat bisa menghasilkan dana yang cukup besar untuk melakukan misi gereja yang lain, tanpa harus melupakan kebutuhan siswa/i yang kurang mampu.

Kesempatan bagi GBI untuk Melakukan Misi Melalui Pendidikan

Dengan sekitar 5,000 gereja, 2 juta anggota jemaat, serta jaringan internasional yang luas, GBI memiliki potensi yang sangat besar untuk berperan aktif dalam mewujudkan lembaga pendidikan Kristen yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Apabila GBI memberikan dukungan berupa endorsement dan memobilisasi sebagian sumberdaya yang dipercayakan Tuhan (baik milik gereja maupun milik jemaat GBI), maka GBI berpeluang untuk menciptakan pendidikan terintegrasi dari TK sampai perguruan tinggi untuk menghasilkan manusia unggul dan punya visi untuk memperluas kerajaan Allah melalui marketplace. Manusia unggul ini memiliki setidaknya 3 karakteristik: kompeten, bersemangat untuk berprestasi serta siap (mau dan mampu) menjadi terang di tengah-tengah marketplace.

Sekali lagi, Indonesia menantikan peran GBI dalam dunia pendidikan!

Perlunya Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan GBI

Saat ini, terdapat cukup banyak lembaga pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi) yang didirikan dan dikelola oleh anggota jemaat GBI, yang masing-masing masih berjuang dan bertumbuh secara independen. Selain itu,  mungkin terdapat cukup banyak potensi lain dari pengusaha, guru, dosen, serta profesional anggota jemaat GBI yang ingin atau telah melayani melalui pendidikan (misalnya memberikan beasiswa, mengajar atau mengelola sekolah) namun belum memiliki wadah pelayanan yang terkoordinasi di GBI. Apabila GBI memiliki sebuah badan koordinasi yang menyatukan visi lembaga-lembaga pendidikan dalam lingkungan GBI ini, maka sangat mungkin GBI akan dapat memberikan dampak yang lebih terasa dan lebih luas dalam masyarakat. Oleh karena itu, Departemen Teologia dan Pendidikan GBI, sedang menggumuli pendirian Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan GBI (BKLP-GBI). Badan koordinasi ini diharapkan akan dapat membawa manfaat bagi para pemangku kepentingan di GBI: gereja, jemaat dan juga lembaga-lemabga pendidikan itu sendiri.

Kepada gereja, BKLP akan memastikan kesamaan misi dari lembaga-lembaga pendidikan yang tergabung di dalamnya, yakni misi kerajaan Allah. Diharapkan sekolah-sekolah yang tergabung dalam BKLP-GBI tidak lagi berorientasi pada aspek komersial tetapi turut membentuk manusia yang takut Tuhan dan siap menjadi terang di tengah-tengah marketplace. Gereja akan dapat menanamkan pengajaran kepada jemaat bukan hanya melalui mimbar tetapi masuk secara langsung ke sekolah-sekolah yang terkoordinasi dalam badan koordinasi tadi.

Bagi jemaat, mereka akan dapat dengan mudah mengenali sekolah-sekolah yang memiliki misi Allah tadi (telah tergabung dalam BKLP-GBI) sehingga putra/i-nya mendapatkan pendidikan yang bukan hanya memenuhi standar kualitas BKLP atau Badan Akreditasi Nasional, tetapi lebih penting lagi mendapat pengajaran yang sesuai dengan Firman Allah. Mereka yang tidak mampu secara ekonomi namun berpotensi secara akademik juga akan dapat terus bersekolah di sekolah anggota BKLP ada dukungan bersama dari anggota jemaat (pengusaha yang menjadi sponsor atau dukungan langsung gereja). Selain itu, BKLP dapat mengadakan pelatihan untuk jemaat atau pelayan yang membutuhkan keterampilan tambahan dengan memanfaatkan kompetensi lembaga-lembaga pendidikan anggotanya (misalnya teknologi informasi, entrepreneurship, dsb.)

Bagi lembaga-lembaga pendidikan anggota BKLP-GBI sendiri (TK sampai dengan perguruan tinggi), badan koordinasi akan memberikan banyak manfaat. Pertama, membantu proses transisi lembaga menjadi lembaga yang sepenuhnya mendukung misi kerajaan Allah (misalnya dengan melakukan penjangkauan/outreach/KKR bagi para pengelola sekolah, guru dan dosen). Bukanlah impian yang terlalu muluk, apabila sebagian besar orangtua merindukan agar putra/inya diajar oleh guru-guru dan dosen yang takut akan Tuhan dan dengan mutlak menempatkan Firman Tuhan di atas ilmu pengetahuan dan teknologi manusia. Kedua, BKLP membantu meningkatkan kualitas materi ajar (baca: kurikulum dan silabus) agar bukan hanya baik dari segi keilmuan, tetapi juga terintegrasi (dari TK sampai dengan perguruan tinggi) dan bersifat holistik (menanamkan ajaran Firman Tuhan dalam kurikulum). Ketiga, BKLP dapat meningkatkan kemampuan mengajar dan penguasaan ilmu pengetahuan guru dan dosen, misalnya dengan menyediakan dana studi lanjut atau pelatihan-pelatihan untuk mereka. Keempat, BKLP dapat membantu penyaluran dan keberlanjutan program pendidikan. Misalnya lulusan TK dapat dengan mudah diterima di SD sesama anggota BKLP, dan selanjutnya sampai jenjang yang paling tinggi. Bahkan lulusan perguruan tinggi anggota BKLP dapat diprioritaskan untuk disalurkan kepada perusahaan-perusahaan milik anggota jemaat GBI yang membutuhkan tenaga kerja. Keempat,  BKLP dapat menggerakkan potensi dana dan usaha dari banyak pengusaha maupun pendidik dalam lingkungan GBI yang siap membangun dunia pendidikan yang sesuai dengan visi Allah, namun selama ini belum memiliki jalur pelayanan terkoordinasi. BKLP dapat menyalurkan beasiswa dengan lebih terarah pada sekolah-sekolah yang telah diverifikasi mendukung misi Allah. Kelima, dengan pengalaman para anggotanya BKLP kelak dapat mendirikan sekolah-sekolah sendiri yang dimiliki dan dikelola langsung oleh GBI, dengan tetap bekerjasama dan saling melengkapi dengan sekolah-sekolah yang dikelola anggota jemaat. Bukankah Indonesia masih sangat kekurangan jumlah sekolah yang berkualitas?

Tentu, masih banyak lagi manfaat yang tidak dapat diuraikan satu per satu. Yang saat ini  diperlukan adalah dukungan dari para pemimpin gereja dan anggota jemaat GBI. Sebagai langkah awal, Departemen Teologia dan Pendidikan GBI yang dipimpin oleh bapak Pdt. DR. Rubin Adi Abraham, memiliki rencana untuk melaksanakan Konferensi Theologia dan Pendidikan di Bandung pada bulan Mei 2009, bertempat di kampus Institut Teknologi Harapan Bangsa, Jl. Dipatiukur 80-84 Bandung. Salah satu agenda utama konferensi ini adalah pendirian BKLP-GBI. Bagi warga GBI yang telah memiliki sekolah (TK sampai dengan perguruan tinggi), atau yang ingin berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam dunia pendidikan, diundang untuk menghadiri konferensi ini. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi bapak Ir. Samuel Tarigan, MBA (samuel_tarigan@ithb.ac.id) atau bapak Pdt. DR. Frans Pantan (frans_pantan@yahoo.com).