Meskipun kita melihat berita-berita positif tentang Indonesia di tahun 2009 yang lalu, seperti pertumbuhan ekonomi yang positif di tengah krisis ekonomi dunia, kita masih bertanya-tanya apakah bangsa kita bisa kompetitif dan mampu bersaing secara global dalam jangka panjang, terutama menghadapi China atau India? Tampaknya, kita tidak terlalu percaya diri. Belakangan ini, para pengusaha Indonesia tengah panik karena berita akan segera diberlakukannya pasar bebas yang disinyalir mampu membunuh industri kita karena dilibas oleh produk-produk Cina yang murah.

 

Apakah anak-anak Tuhan perlu memikirkan dan turut memecahkan masalah ini? Jawabannya: YA! Kita harus jadi berkat bagi bangsa sebelum bisa membawa terang dan menjadi saksi. Apabila orang-orang Kristen turut membangun, maka masyarakat akan menjadi lebih terbuka terhadap orang-orang Kristen dan kabar baik yang dibawanya. “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu “ (Yer 29:7).

 

Kita semua sadar bahwa untuk mencapai kemajuan, bangsa kita harus berinvestasi dalam bidang pendidikan. Human Development Index (HDI) kita yang masih berada di urutan 111 dari 182 negara di tahun 2009 yang lalu akan dapat meningkat apabila kita memberikan perhatian dan segala sumber daya untuk mengembangkan dunia pendidikan.

 

Nah, pertanyaannya, investasi pendidikan yang bagaimana yang harus kita kembangkan? Tampaknya yang kita perlukan jauh lebih besar daripada sekedar gedung-gedung sekolah dan infrastruktur yang baru. Yang terutama kita butuhkan saat ini adalah sistem pendidikan yang bersifat holistik yang mencakup aspek intelektual, emosional dan spiritual. Sistem pendidikan kita yang ada saat ini masih cenderung parsial dan masih sangat kekurangan beberapa hal kunci berikut:

  1. Guru berkualitas yang bisa menjadi teladan dan dapat melakukan transfer of knowledge, transfer of faith dan bahkan transfer of life.
  2. Penanaman kepada anak didik tentang misi dalam hidup mereka dan panggilan Allah yang jelas untuk membawa terang kepada bangsa Indonesia melalui pilihan hidup mereka.
  3. Pengembangan kemampuan anak untuk melakukan perencanaan karir dan goal setting (memperkenalkan alternatif pilihan profesi untuk anak-anak didik kita).
  4. Fokus utama pada aspek kompetensi, karena selama ini masih banyak peserta didik yang hanya mengutamakan nilai dan ijazah.
  5. Pembentukan karakter Kristus baik di rumah, sekolah, gereja dan komunitas karena hal tersebut masih sering dianggap adalah bagian orangtua atau bagian gereja saja. Padahal anak didik akan kebingungan apabila mendengar pengajaran yang berbeda di rumah, gereja, sekolah, dan komunitas pergaulannya. Akibat pesan yang tidak kongruen, mereka akhirnya harus menentukan pilihan menerima satu pengajaran dan menolak yang lain.

Apa yang bisa kita lakukan? Sebagai orang tua Kristen, kita harus memahami bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan formal. Bagaimana caranya? Pertama, orang tua perlu mengupayakan agar beribadah bersama seluruh keluarga setiap hari agar dapat memperkenalkan Kristus pada anak sejak dini. Perlu diketahui bahwa sebagian besar orang percaya mengambil keputusan pada usia sebelum 18 tahun. Oleh karenanya jangan sampai kita lupa memastikan anak-anak kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

 

Selanjutnya, orangtua juga harus menyediakan waktu secara khusus untuk memotivasi anak. Bukan hanya mengecek apakah ia sudah makan , sudah mandi dan mengerjakan PR . Ada banyak hal yang bisa dilakukan orangtua, misalnya menggunakan waktu makan malam bersama untuk memberikan motivasi dan memberikan pengertian tentang pilihan-pilihan karir atau profesi bagi anak, dan menolong mereka agar mampu menerjemahkan cita-cita mereka menjadi sebuah rencana, yang diwujudkan dalam pemilihan jalur studi dan karir yang jelas dan konsisten.

 

Lebih penting lagi, orang tua perlu menjelaskan bahwa apapun yang dilakukan dan akan dicapai oleh anak-anak kita kelak, semuanya harus diarahkan untuk memenuhi peran kita yakni sebagai “imamat rajani yang memberitakan kabar baik” (I Pet 2:9). Artinya, karir, bisnis, pelayanan atau profesi apapun yang mereka pilh nanti harus digunakan untuk melayani Tuhan dengan membawa terang kepada bangsa Indonesia yang ditutupi kegelapan. Dan oleh karenanya, mereka harus sungguh-sungguh belajar, bukan sekedar agar berhasil dalam karir dan/atau memperbaiki bangsa, tetapi agar kelak memperoleh hadiah kekal dari Bapa di surga.

 
 

Ir. Samuel Tarigan, MBA