Setiap hari, milyaran orang bangun pagi, berangkat ke kantor, melakukan pekerjaannya, pulang ke rumah, bertemu dengan keluarga, tidur, dan melakukan rutinitas demikian hari demi hari selama bertahun-tahun. Sayangnya, banyak orang terjebak rutinitas tanpa memahami tujuan dan makna hidupnya dengan jelas. Ada orang yang berpandangan selama tidak menjadi menyusahkan orang lain, sudah cukup, atau dengan kata lain ‘hidup biasa-biasa’ saja. Mereka yang lebih ambisius bekerja lebih keras untuk mencapai sukses secara materi, jabatan maupun keluarga. Sebagian kecil orang yang lebih ambisius lagi berusaha mencapai kehidupan yang bermakna bagi orang lain dan kemanusiaan. Contohnya, Bill Gates dan Warren Buffet, orang-orang terkaya di dunia ini memberikan sebagian besar kekayaannya untuk tujuan-tujuan kemanusiaan seperti riset pemberantasan penyakit malaria dan kemajuan pendidikan.

 

Apakah tujuan dan makna hidup saya? Hidup biasa, sukses atau bermakna? Bagi orangtua sangat penting bisa menjawab pertanyaan fundamental ini sebelum kita bisa memberikan motivasi kepada anak-anak kita. Tanpa tujuan hidup yang jelas, bagaimana kita dapat mengarahkan mereka untuk sebuah hidup yang maksimal?

 

Alkitab berkata bahwa hidup kita harus memiliki makna yang kekal, jadi bukan hanya bermakna bagi orang lain, sukses apalagi biasa-biasa saja. Penulis best seller Rick Warren mengatakan ‘It’s not about you … it is about GOD’ … hidup bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Tuhan! Segala sesuatu diciptakan oleh Allah dan untuk Allah untuk memuliakan Dia! (Kol 1:16, Rom 11:36). Di dalam Kristus kita hidup untuk tujuan yang kekal, yakni menghasilkan buah yang tetap dengan memberitakan Injil Kerajaan Allah dan keselamatan dalam Yesus Kristus kepada setiap orang melalui profesi dan panggilan kita masing-masing, termasuk melalui profesi ‘sekuler’.

 

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua untuk mengarahkan anaknya agar dapat hidup maksimal di dalam Tuhan:

  1. Definisikan visi dan misi hidup Anda sendiri, yakni bagaimana Allah akan memakai Anda secara khusus untuk memberkati kelompok masyarakat tertentu di sekitar kita dan memperkenalkan injil Kerajaan Allah kepada mereka.
  2. Jadilah teladan bagi anak Anda, dengan memberikan prioritas waktu dan perhatian tertinggi Anda untuk mencapai tujuan tersebut. Anak Anda akan dapat melihat apa yang kita lakukan bukan yang kita katakan.
  3. Jelaskan pada anak Anda bahwa makna hidup tertinggi adalah hidup bagi Tuhan dan kerajaan Allah. Di hadapan Tuhan, bekerja sekuler sama mulianya dengan hamba Tuhan full timer asal kita mendedikasikan hidup bagi Tuhan.
  4. Kenali talenta dan kesukaan (passion) anak. Tuhan menanamkan talenta dan passion di dalam diri mereka yang akan dipakai untuk suatu tujuan pekerjaan Tuhan.
  5. Buka wawasan anak mengenai berbagai macam profesi dan pekerjaan, dimulai dengan profesi dan pekerjaan orang tua.
  6. Bantu anak untuk mulai memikirkan dengan serius apa yang menjadi cita-cita profesi atau pekerjaan dan bagaimana mereka bisa melakukan misi Kerajaan Allah melaluinya.
  7. Berikan gambaran kepada anak, apa saja yang harus dilakukan sehingga visi tersebut dapat terlaksana. Seperti, pendidikan apa yang harus ditempuh, kegiatan-kegiatan apa yang bisa menunjang atau menghambat pencapaian visi tersebut.
  8. Bantu anak menuliskan target-target spesifik tahunan yang ingin dicapai. Target yang baik adalah SMART: Spesifik, Measurable (dapat diukur), Attainable (menantang), Realistic (dapat dicapai), Timebound (berbatas waktu).
  9. Bantu anak Anda menyusun target mingguan dan menyusun jadwal kegiatan mingguan untuk mencapai target tersebut. Dengan demikian mereka terlatih untuk menempatkan prioritas pada kegiatan yang menunjang pencapaian tujuan akhir (goal and result oriented).
  10. Berdoa bersama keluarga secara teratur, mohon Tuhan yang mengarahkan setiap langkah kehidupan kita. Lakukan evaluasi periodik atas pencapaian tujuan tersebut, misalnya dengan memanfaatkan waktu liburan keluarga.

Ingatlah perumpamaan hamba yang baik dan yang jahat (Mat 25). Meksipun kita tidak dituntut (tidak perlu) menjadi ‘hero’ atau pahlawan bagi Tuhan, kita tetap harus melakukan bagian kita secara maksimal. Perencanaan dan target kita adalah wujud komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi Dia. Akhirnya, serahkan segala rencana kita pada Tuhan, karena kita tetaplah hamba yang harus taat pada tuntunanNya. Kecuali Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah upaya kita. Tuhan memberkati.