Pada tanggal 6-8 September 2009 yang lalu, Direktur Pendidikan Umum Asosiasi Pendidikan Bethel (APB) bapak Ir. Samuel Tarigan, MBA bersama-sama dengan sekitar 10 peserta dari Indonesia menghadiri acara konferensi internasional 4/14 Windows Global Initiative  yang diadakan oleh Transform World International dan Promise Church, New York City, Amerika Serikat.  Berikut ini adalah ulasan mengenai Jendela 4/14 serta relevansinya dengan APB. Yang membanggakan, ketua panitia konferensi internasional yang dihadiri lebih dari 300 utusan pemimpin pelayanan dari seluruh dunia, adalah seorang Indonesia yaitu bapak Bambang Budijanto, PhD. (Director of Compassion Asia) yang bermukim di Colorado.

 

Jendela 4/14

Jendela 4/14 adalah sebuah istilah yang baru-baru ini dicetuskan oleh Dr. Luis Bush (penggagas 10/40 Window beberapa tahun yang lalu) untuk menyebutkan sebuah kelompok demografis usia 4 hingga 14 tahun, yang perlu mendapat prioritas dalam pelayanan untuk diraih bagi Kristus karena:

  • di dalam area geografis 10/40 window (10-40 derajat Lintang Utara), kelompok usia 4-14 adalah kelompok usia terbesar dalam masyarakat

  • kelompok usia tersebut sangat terbuka dan mudah menerima segala bentuk masukan pengembangan intelektual dan spiritual

  • masa depan gereja akan tergantung kepada pembentukan kompetensi, sikap, dan iman anak-anak yang saat ini dibinanya

 

Fakta

Gereja seringkali mengabaikan peran strategis anak-anak bahkan banyak yang menganggap pelayanan dan pelatihan kepada anak-anak sebagai pelengkap. Paradigma ini harus diubah karena data menunjukkan bahwa anak-anak 4 sampai 14 tahun merupakan kelompok yang sangat potensial. Sekitar 1,2 miliar penduduk dunia berada dalam kelompok usia ini. Bahkan kelompok masyarakat yang perlu dijangkau dalam Jendela 10/40 (10/40 Windows – Unreached People Group) sebagian besar berusia antara 5 sampai 14 tahun.

 

Tabel Jumlah Populasi Kelompok Umur 5 sampai 14 (2010)

(10 Negara terbesar)

 

No

Negara

Jumlah

1

India

248,253,120

2

China

180,084,594

3

Indonesia

42,716,276

4

Nigeria

42,716,276

5

USA

41,819,347

6

Pakistan

38,118,459

7

Bangladesh

36,068,928

8

Brazil

35,263,734

9

Ethiopia

23,990,943

10

Mexico

20,855,453

Total (Top 10)

709,595,962

Total (Others)

508,921,404

Global Total

1,218,517,366

Sumber: United Nations

 

Jika diperlengkapi dan dibimbing dengan tepat, anak-anak dan remaja adalah suatu kekuatan yang penting dan strategis yang dapat mentransformasikan suatu generasi bahkan mengubah dunia.

Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” (Luk 18:16)

 

Setiap orang tua mengetahui bahwa, masa kanak-kanak adalah masa pembentukan yang paling optimal. 90% otak kita terbentuk bahkan sebelum kita berusia 3 tahun dan 85% sifat dan karakter kita dibentuk sampai kita berusia 6 tahun. Raja Salomo, orang yang paling bijaksana yang pernah hidup, mengajarkan kita untuk “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Ams 22:6).  Sepatutnyalah kita MENDIDIK generasi 4/14 dalam jalan Tuhan, sehinggap pada saat mereka tumbuh dewasa mereka dapat dipakai Tuhan untuk mengubah dunia.

Dr. Dan Brewster (Compassion International, Malaysia Baptist Theological Seminary) dalam risetnya menyatakan bahwa:

Kebanyakan orang mengambil keputusan untuk menerima Kristus melakukannya sebelum usia 15 tahun. Di Amerika, hampir 85% orang yang mengambil keputusan untuk menerima Kristus, melakukannya pada usia antara 4 dan 14 tahun.

George Barna dari Barna Group (www.barna.org), sebuah lembaga riset Kristen professional, membuat studi dan mengkonfirmasikan prinsip dalam Amsal 22:6 tersebut di atas. Dalam riset tersebut terbukti bahwa perilaku dan kepercayaan seseorang umumnya terbentuk pada saat kanak-kanak dan awal masa remaja. Sebagian besar dasar moral dan rohani sudah diletakkan pada usia 9 tahun, seperti dasar mengenai kebenaran, integritas, nilai, keadilan, moralitas dan etnik. Barna menambahkan bahwa “Saat berusia 13 tahun, identitas spiritual seseorang sebagian besar sudah tertanam.”

 

Grafik Ages at Which People Become Christians

clip_image002

Sumber: Myers, G.L.: State of the World’s Children. IDMR

 

Statistik ini menunjukkan betapa luar biasa besar panen spiritual yang siap dituai! Jika kita dapat menjangkau anak-anak dan remaja dan memuridkan mereka pada saat masa pandangan mereka tentang hidup dan dunia terbentuk, kita akan menempatkan mereka pada batu yang kokoh yang tidak mudah tergoyahkan. Gereja harus menempatkan prioritas utama untuk menjangkau kelompok usia 4 sampai 14 tahun. (Informasi lebih rinci ada di di http://4to14window.com/)

 

Tantangan bagi GBI

Untuk membangkitkan generasi 4/14 sehingga mereka memiliki dampak transformasional tidaklah mudah. Ini merupakan suatu tantangan yang multi-dimensi, dan harus dilakukan pendekatan yang holistik. Di sinilah gereja seharusnya mengambil peranan utama (sebagai driver), bukan sekedar pendamping.  Bagaimana caranya GBI dapat berperan dalam hal ini?

1.       Gereja perlu memiliki visi holistik bahwa anak usia 4-14 perlu dibina dengan pendekatan menyeluruh yang setidaknya mencakup 5 aspek (agar mudah diingat disebut 5C): Christ (kehidupan rohani anak yang berpusat pada hubungan pribadi dengan Kristus), Community (anak memiliki keluarga dan komunitas untuk bertumbuh dengan sehat), Character (pembinaan karakter), Calling (anak dibina agar menyadari panggilan Allah buat dirinya), Competencies (anak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan praktis (life skills), pengetahuan alkitab, dan pelayanan).

 

clip_image004

2.       Gereja perlu memanfaatkan sumberdaya yang dimilikinya untuk mendukung pendidikan anak yang holistik, misalnya dengan mendirikan TK dan SD yang diintegrasikan dengan pelayanan di gereja, dengan memanfaatkan fasilitas lahan/gedung yang ada.

3.       Gereja perlu mempersiapkan guru-guru dan tenaga pendidikan yang kompeten dalam hal paedagogi, keilmuan, sikap dan kepribadian yang menunjang tercapainya misi Allah bagi generasi 4-14.

4.       Gereja dan sekolah-sekolah Kristen (khususnya anggota APB) perlu menyiapkan kurikulum dan materi pendidikan yang holistik dan sesuai dengan Firman Tuhan (biblical worldview).

5.       Gereja dan sekolah-sekolah Kristen (khususnya anggota APB) perlu mengembangkan jejaring dan kerjasama dengan lembaga-lembaga pelayanan, termasuk lembaga internasional, yang memiliki beban untuk memajukan pendidikan anak di Indonesia.

Salah satu tantangan nyata bagi GBI (khususnya APB) adalah pendidikan guru, karena tenaga pendidik adalah awal dan kunci keberhasilan pendidikan yang holistik. Selain itu, GBI perlu memperlengkapi jemaat dengan pengetahuan pembinaan anak yang baik, misalnya dengan bekerja sama dengan lembaga pelayanan yang sudah memulainya (contohnya Focus on the Family).

Dalam rangka merealisasikan hal tersebut, APB sedang merintis hubungan dengan Association of Christian Schools International (ACSI) dari Amerika Serikat yang telah memiliki kantor perwakilan di Surabaya dalam rangka peningkatan kemampuan mengajar guru serta manajemen sekolah. APB juga sedang merintis hubungan dengan Ohana Foundation (California Amerika Serikat) yang mengembangkan program pelatihan bahasa Inggris yang praktis tingkat playgroup sampai SMA yang dapat diselenggarakan tanpa harus tergantung kepada guru-guru yang sudah mahir berbahasa Inggris. Selain itu, APB sedang menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Focus on the Family, World Teach, dan lembaga-lembaga pelayanan lainnya agar program-program yang sudah pernah dikembangkan sebelumnya tidak perlu dibuat sekali lagi (‘reinvent the wheel’), melainkan dapat langsung dimanfaatkan oleh GBI.

Sekitar bulan Mei 2010 mendatang, APB merencanakan untuk dapat menyelenggarakan Konferensi Theologia dan Pendidikan kedua (KTP-II) yang akan diisi berbagai program training/workshop (misalnya IT, peningkatan kompetensi guru, kewirausahaan, dll.) untuk generasi muda dan para pendidik di GBI.

Sebelum KTP-II dilaksanakan, maka pada bulan Januari 2010, APB akan mengundang Departemen Theologia dan Pendidikan dari ke-33 BPD untuk hadir di Jakarta untuk memberikan masukan kepada panitia tentang program-program training yang relevan dengan kebutuhan GBI.  Selain itu, APB dalam waktu dekat akan menerbitkan buku 20,000 eksemplar Profil Anggota APB yang menjadi sarana memperkenalkan keunggulan sekolah-sekolah anggota  APB kepada sekitar 2 juta anggota jemaat GBI di seluruh Indonesia.

Bapak/Ibu yang memerlukan informasi lebih lanjut atau ingin memberi masukan mengenai program KTP-II, pelatihan guru/kewirausahaan/IT, kerjasama dengan lembaga-lembaga pelayanan di atas, dan/atau ingin mencantumkan sekolahnya dalam buku Profil Anggota APB dapat menghubungi Sdri. Nurmiyati (nurmi@ithb.ac.id) atau membuka www.apb.or.id.